Menjaga niat

Jumat, 26 Maret 2010

Manusia memang ajaib. Dialah satu-satunya makhluk yang bisa melawan dorongan instinknya. Kekuatan fikirannya bisa mengalahkan dorongan-dorongan biologisnya. Contohnya, ketika seorang muslim sudah berniat shaum, ternyata fikirannya bisa memerintahkan otaknya agar tubuhnya tidak memproduksi asam lambung, sehingga meskipun ia tidak makan dan minum, tidak lantas ia merasakan mules, nyeri lambung atau maag. Itulah kekuatan niat. Sampai-sampai dalam sebuah hadits sohih yang amat populer Rasulullah bersabda :  innamal-a'maalu binniyyati, "pastinya setiap amal itu bergantung pada niatnya." Niat itu adanya

dalam hati. Sedangkan hati itu sendiri amat dipengaruhi fikiran, dan fikiran berpengaruh besar pada kondisi fisik. Dalam dunia kedokteran dikenal istilah penyakit psikosomatik, yaitu suatu kondisi pasien di mana yang sakit adalah fikirannya tetapi fisiknyalah yang menerima akibatnya. Saya jadi teringat waktu dulu masih sekolah di Aliyah. Ada seorang teman yang tiap kali mau menghadapi ulangan, penyakit eksimnya kambuh. Atau kalau disuruh nalar Qur'an atau hadits, kontan terserang menwa alias mencret wae hingga ia keluar masuk WC, oleh guru pun akhirnya dilewat, dan dengan begitu ia bisa bebas dari tugas. Setelah diselidiki, ternyata hatinya tak siap, dan itu mendorong fikirannya memerintahkan otaknya untuk segera memproduksi zat kimia tertentu penyebab eksim atau mencret. Hatinya mencari-cari alasan pembenaran terhadap tindakannya. Dan bukankah yang begini sering kita lakukan?
Dalam realitas kehidupan, kekuatan niat manusia ini bisa amat mengagumkan. Bisa merubah hal-hal yang menurut sebagian orang tidak mungkin menjadi mungkin. Niat ini akan melahirkan tekad dan motivasi kuat untuk berbuat atau mengerjakan sesuatu. Tapi niat itu tidak berdiri sendiri. Ada proses pembentukannya. Ia dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan, keyakinan, kesadaran, peristiwa tertentu, pengalaman batin tertentu atau bisa juga sebagai hasil bentukan keimanan yang ada dalam diri seorang muslim. Makin tinggi dan berkualitas keimanannya, makin berkualitas pula niatnya. Tentu yang harus dijauhi adalah cuma sekedar niat. "kalau saya punya uang 100 juta," kata seseorang, "akan saya sumbangkan semuanya untuk mesjid."  Ketika ada orang lain bertanya,"nah, buat kamu sendiri, mana?" dengan entengnya ia menjawab, "ya mudah, melamun lagi !" Bisa jadi ucapan itu meluncur dari mulutnya karena saat itu ia memang sedang tak punya uang. Kalau sudah punya? ya boro-boro sumbang mesjid. Bisa-bisa ia pura-pura sakit atau menampakkan diri seperti orang linglung dan bingung biar orang lain tak tahu ia sedang beruang, dan dengan begitu ia terlepas dari kewajiban. Tuh kan hatinya mencari-cari pembenaran lagi. Ngaku aja deh, kita semua kadang suka begitu ya...
Ketika Rasulullah menjelaskan makna iman, beliau bersabda : al-iimanu tashdiqun bil jinan, iqrarun bil lisanwa 'amalun bil arkan, "iman itu adalah sikap membenarkan dengan hati, mengucapkan dengan lidah, dan mengamalkan dengan raga." Ada tiga komponen sebagai suatu kesatuan : keyakinan, ucapan dan laku perbuatan. Ketiganya tak boleh dipisahkan. Mengaku yakin akan kebenaran Allah tetapi tidak mau membuktikannya dalam ucapan dan perbuatan, wah bisa mirip syetan tuh. Dia kan makhluk yang diciptakan bersamaan dengan malaikat. Dia yakin betul kekuasaan dan keagungan Allah itu seperti apa, tapi dia tak
mau menuruti perintah-Nya. Nah, kalau hati tidak yakin akan kebenaran Allah, tetapi lidah dan perbuatannya mirip-mirip orang mukmin, itu sih sikap orang munafik. Para ulama menyatakan, "orang munafik itu  orang yang menyembunyikan kekufuran dalam hati, tetapi lahiriyahnya menampakkan keimanan"  alias tukang berpura-pura, berwajah dua, sana sini oke aje...
Jadi orang beriman itu selalu memiliki ciri : hatinya positif, fikirannya positif, ucapannya positif dan laku perbuatannya pun positif. Hati yang positif akan melahirkan fikiran positif, dan seterusnya fikiran positif akan melahirkan ucapan dan prilaku yang positif pula. Karena itu, sikap pertama seorang mukmin adalah selalu menjaga hatinya, dan dengan cara itu dia juga akan bisa menjaga niatnya. Bentuk penjagaan terhadap niat yang positif itu dilakukan dengan senantiasa berbaik sangka (husnudzan) kepada Allah.  Dengan selalu berbaik sangka kepada-Nya niscaya niat-niat baik kita akan menjadi kenyataan. Mau contoh ? perhatikanlah
fragmen kisah Ali bin Abi Thalib ketika isterinya, Fatimah puteri Rasulullah, sedang ngidam berat buah apel (hehe kadang-kadang yang ngidam kan suka minta yang aneh-aneh, isteri teman saya malah minta suaminya dibotak. "untung gak minta pengen pegang hidung presiden, berabe aku !" katanya).
Singkat cerita, selepas subuh Ali sudah keluar rumah mencari apel buat isterinya tercinta, keluar masuk pasarlah, tapi apel belum juga ditemukan. "ya Allah, sampai sesiang ini belum juga kutemukan apel. Duh isteriku bisa cemberut nih," begitulah kira-kira perkataan hatinya. Lalu masuklah dia ke pasar terakhir, dan kebetulan apel itu ada. Tinggal satu-satunya. Segera dibelinya dan bergegas pulang, "alhmadulillah apel ini kutemukan, isteriku pasti gembira nih,"  tetapi tak lama keluar pasar, Ali bertemu dengan seorang nenek yang cucu perempuannya menangis terus menerus karena ingin buah apel. Nenek itu kemudian meminta buah apel itu. Terjadilah pergulatan batin dalam diri Ali antara memberikan apel buat cucu si nenek dengan
memenuhi permintaan isterinya yang sedang ngidam. Tetapi beliau adalah orang yang yakin dengan janji Allah : setiap kebaikan, niscaya Allah membalasnya dengan sepuluh kali lipat. Apel itupun diberikannya. Hatinya gembira karena dapat memberikan kebehagiaan kepada orang lain. Dia yakin Allah akan menggantinya dengan sepuluh buah apel. Dia pun pulanglah. Hatinya mengatakan, "isteriku adalah wanita beriman. Akan kuceritakan kejadian ini. Pasti dia mengerti !"  Nah, ketika dia sudah sampai rumah, dilihatnya Fatimah sedang makan buah apel
"dari mana kau dapatkan buah apel ini," tanya Ali
"tadi saudaramu, Salman, datang dan mengirim buah apel," jawab Fatimah
"berapa buah apel yang Salman kirim?"
"sembilan buah"
Ali bergegas keluar rumah dan mencari-cari Salman. Tidak mungkin Allah mengingkari janji-Nya. Satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan. Satu buah apel pastinya digantikan sepuluh buah apel. Akhirnya keduanya bertemu..
"wahai Salman, aku yakin Allah memberiku sepuluh buah apel, tapi kok cuma sembilan," kata Ali
"memang sepuluh, tapi aku juga kepingin, lalu kuambil satu dan kumakan," jawab Salman.
Ali tersenyum. Dia adalah orang yang selalu berbaik sangka dan yakin akan kemurahan Allah. Keikhlasannya membantu orang lain membuahkan balasan sepuluh kali lipat. Karena itu, jika kita punya niat yang baik, laksanakanlah. Niscaya Allah membalasnya, paling sedikit, dengan 10x nilai kebaikan yang kita lakukan. Jadi dengan keyakinan akan Allah, hati dan fikiran kita menjadi positif, dan itu akan menjadikan sesuatu yang tidak mungkin menjadi mungkin. Nah, kepada para sahabat : forget the past, face the future, our main business is not to see what lies dimly at a distance, but to do what lies clearly at hand. Believe in Allah will make impossible things must be possible things... Action-kan eng ing eng       

0 komentar:

Posting Komentar

 
 
 

lihat iklan, dapat duit !

 
Copyright © Sukses Dunia-Akhirat | Using Amoebaneo Theme | Bloggerized by Themescook | Redesign by Kang eNeS
Home | TOP