Syumuliyatul Islam

Minggu, 06 Februari 2011


(Bagian pertama)
Yang dimaksud dengan syumuliyatul Islam adalah kelengkapan Islam sebagai sebuah sistem kehidupan. Syumul artinya integral atau menyeluruh. Aturan-aturan Islam itu berkaitan dengan segala aspek dan bidang kehidupan manusia, dari mulai persoalan besar seperti akidah, ekonomi, pendidikan, politik, sampai masalah-masalah kecil yang berkaitan dengan kehidupan kita sehari-hari, seperti makan minum, tidur, buang air, keluar rumah, dan lain-lain, dan seterusnya. Islam sebagai sistem kehidupan ini dijamin sudah sempurna dan lengkap, tidak lagi memerlukan penambahan, serta berlaku sepanjang zaman (QS al-Maidah : 3). 
Aturan-aturan Islam yang integral itu bisa direduksi menjadi tiga bagian besar, yaitu
:


1) Hablun min al Allah    :  mengatur hubungan manusia dengan Allah. Hubungan ini bersifat       penghambaan, yakni Allah dalam kedudukan-Nya sebgai Rab (pencipta, penguasa, pemilik dan pemelihara seluruh alam), dan manusia sebagai makhluk atau hambanya.
2. Hablun min al nas      :  mengatur hubungan manusia dengan sesamanya.  Hubungan ini bersifat mu'amalah, berkaitan dengan usaha manusia dalam memenuhi semua kebutuhannya                                      
3. Hablun min al alam    :   mengatur hubungan manusia dengan alam yang ada di sekelilingnya. Hubungan ini bersifat pengelolaan di mana manusia berkewajiban memakmurkan bumi dan semua isinya untuk sebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat.


Hablun min al Allah
Hubungan manusia dengan Allah merupakan dasar dari semua hubungan yang lain. Disebut dasar karena sifat hubungan ini adalah bentuk penghambaan dari manusia terhadap-Nya. Allah telah menciptakan semua makhluk yang ada (termasuk manusia) dengan maksud agar mereka beribadah kepada-Nya saja (QS adz-Zariyat : 56). Untuk dapat beribadah dengan baik dan benar itulah kemudian Allah menurunkan petunjuk hidup yang bernama Islam. Jadi Islam adalah agama yang diturunkan oleh-Nya yang berisi tuntunan bagaimana beribadah kepada-Nya
itu bisa kita lakukan. 
Bagaimana seharusnya kita bersikap kepada Allah,  itulah yang sesungguhnya tertuang dalam kalimah yang amat pendek tapi demikian sarat makna, Laa ilaaha illa Allah  'tiada ilah selain Allah'.  Dalam bahasa Arab, kalimah ilah memilki banyak makna, antara lain : al-ma'bud (yang disembah), al-mahbub (yang dicintai), al-maqshud (yang dijadikan tujuan), al-mutha'u (yang ditaati).Sehingga ketika seseorang menucapkan kalimat itu, ia telah menyatakan tekad : tidak ada yangh disembah, dicintai, dijadikan tujuan dan ditaati selain Allah saja. Karena itu, bagi seorang muslim, laa ilaaha illa Allah, bermakna : pernyataan tekad dan ikrar kesetiaan (al-i'laan), janji setia (al-wa'du), dan sumpah (al-qasamu) untuk tidak menjadikan apapun selain-Nya sebagai yang disembah, dirindukan, ditaati, dan dijadikan tujuan dalam hidupnya. Karena itu sebagian besar ulama menyatakan bahwa kalimah ini merupakan inti atau saripati dari ajaran Islam.
Hubungan manusia dan Allah itu tertuang dalam istilah  'iman' yang dalam hadits riwayat Ibn Majah disebutkan, bahwa iman itu merupakan keterikatan antara kalbu, ucapan dan perilaku. Ikatan artinya keterpaduan dan kekompakan. Iqrar artinya pernyataan atau ucapan. Iqrar bil lisan dapat difahami sebagai sikap menyatakan baik secara lisan maupun tulisan. Amal bil arkan artinya perilaku gerakan dari semua anggota tubuh untuk berbuat apa saja. Dan dengan penjelasan itu dapat diketahui bahwa rukun (struktur) iman terdiri dari aspek : kalbu, lisan dan 
perbuatan.Ketiganya merupakan satu kesatuan. Tak bisa dipisahkan. Orang beriman adalah orang yang meyakini kebenaran Islam sebagai din yang datang dari Allah, kemudian ia membuktikannya melalui semua perkataan dan perbuatan-perbuatan nyata. Karena itulah, dalam istilah Al-Qur'an, iman digambarkan sebagai sikap sami'naa wa atha'naa (kami mendengar dan kami taat).
Hablun min al nas dan hablun min al alam
Hubungan manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya sebenarnya merupakan perwujudan dari hubungan manusia dengan penciptanya. Hubungan manusia dengan Allah itu diwujudkan, diimplementasikan atau diterapkan dalam kehidupan manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Bahkan hubungan kita dengan Allah itu baru dianggap bernilai jika menghasilkan hubungan-hubungan yang baik dengan sesama dan alam di sekeliling kita. 
Perhatikanlah, misalnya shalat, diawali dengan takbiratul ihram (menggambarkan hablun min al Allah), dan diakhiri dengan membaca salam sebagai pernyataan kesiapan untuk menciptakan keselamatan dengan lingkungan (hablun min al nas dan hablun min al alam). 
Dengan demikian, hablun min al Allah itu seharusnya melahirkan kesadaran kemanusiaan dan kealaman kita. Dan karena itulah Islam demikian kuat menanamkan semangat kebersamaan dan keinginan melestarikan alam, tidak hanya mengolahnya, namun dengan tetap memperhatikan keharmonisannya.    
      

1 komentar:

Saprudin Danial mengatakan...

allhamdulillah dgn materi ini ana bisa selesaikan tugas ana,, skali lagi terimah kasih banyak,,

Posting Komentar

 
 
 

lihat iklan, dapat duit !

 
Copyright © Sukses Dunia-Akhirat | Using Amoebaneo Theme | Bloggerized by Themescook | Redesign by Kang eNeS
Home | TOP