Ulul-albab : sosok sarjana muslim

Sabtu, 20 November 2010


Dalam garis besarnya, ayat-ayat Allah terdiri dari tiga bagian besar, yaitu: ayat-ayat  yang difirmankan (Al-Qur'an), ayat-ayat yang diciptakan (alam semesta), dan ayat-ayat yang kita temukan dalam sejarah kehidupan manusia. Ketiga bagian besar ayat-ayat Allah itu bisa kita reduksi menjadi ayat-ayat khalqiyyah atau kauniyyah, dan ayat-ayat khuluqiyyah, atau ayat-ayat yang oleh sebagian orang disebut ayat-ayat sosial budaya yang sifatnya normatif karena
berkaitan dengan ketentuan-ketentuan hukum dan akhlak. Semua ayat itu berfungsi sama, yaitu sebagai petunjuk bagi umat manusia. Dan karena itu, semua ayat Al-Qur'an merupakan ayat-ayat tarbiyyah oleh sebab seluruhnya mengarahkan dan menunjukkan kita bagaimana menjadi manusia berpendidikan. Dan manusia berpendidikan atau kaum intelektual itu adalah orang yang dalam hadits Rasulullah disebutkan :  
      
          "orang yang cerdas adalah orang yang menghambakan dirinya (kepada Allah)
           dan beramal untuk menghadapi apa yang ada setelah kematian." (HR Abu Dawud)





Dua kata kunci dalam hadits itu adalah : menghambakan diri kepada Allah, dan beramal untuk menghadapi akhirat. Jadi bukan gelar akademis yang menentukan melainkan sikap, pandangan dan gaya hidup yang sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya. Gelar itu hanya efek samping. Bergelar banyak tapi tak merubah sikap dan pandangan hidup menjadi lebih islami, tidaklah disebut kaum intelektual.
Beberapa langkah sederhana untuk memahami ayat-ayat tarbawi adalah sbb. :
1) Memamahi thema pokok (major theme) Al-Qur'an yang dalam ungkapan salah seorang ulama tafsir, imam Ali Ash-Shabuni, disebutkan : memerdekakan umat manusia dari penghambaan diri terhadap sesama manusia menuju penghambaan diri terhadap Allah saja. Jadi tema pokok Al-Qur'an adalah tauhidul-ilaah (mentauhidkan Allah).
2) Memahami sirah Nabawi atau sejarah kehidupan Muhammad SAW . Sebuah sirah  ilmiah yang dibukukan, sirah sejarah yang abadi yang runtut narasinya sejak beliau lahir hingga wafat. Sirah yang sempurna dan menyeluruh yang memfigurkan kehidupan beliau dalam berbagai kejadian dan peristiwa serta mengungkapkan kehidupan yang saling melengkapi dan berimbang. Sehingga di dalamnya kita bisa menemukan Islam yang benar-benar hidup. Kehidupan beliau inilah aplikasi praktis dari Al-Qur'anul karim sebagaimana dinyatakan Aisyah, "khuluquhul Qur'an,"   akhlak-akhlak beliau ya Al-Qur'an itu...
Dengan demikian, untuk memahami ayat-ayat tarbawi hanya bisa dilakukan  dengan memahami kedua hal di atas (Al-Qur'an dan Sunnah) sebagaimana Imam Asy-Syatibi menyatakan bahwa pemeliharaan terhadap Al-Qur'an berarti mencakup pula pemeliharaan terhadap Sunnah. Karena Sunnah merupakan penjelas Al-Qur'an secara teori maupun praktik. Pemeliharaan terhadap apa yang diterangkan juga mencakup pemeliharaan terhadap keterangannya. Dari 
konteks inilah pendidikan menjadi lebih bisa difahami. Dan berangkat dari pemahaman akan keduanya pula, umat Islam terdahulu (salafus-shalih) berhasil mengembangkan peradaban teragung dalam sejarah kemanusiaan.
Ilmu sebagai pembuka jalan
Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Rasulullah berkaitan dengan keutamaan ilmu dan prioritasnya dibandingkan hal lain. Segala sesuatu dapat dimulai dan segala amal dapat dibuka dengan ilmu itu. Perintah membaca hingga dua kali  pada surat Al-'alaq menegaskan bahwa membaca adalah pintu ilmu dan kuncinya. Wahyu kedua (surat al-Muddatsir) berisi perintah beramal, baik yang berhubungan dengan manusia (bangunlah lalu berilah peringatan), atau berhubungan dengan Rabb (Dan Rabbmu, agungkanlah), atau berhubungan dengan
diri sendiri (dan pakaianmu, bersihkanlah, dan perbuatan dosa, jauhilah). 
Dengan demikian Al-Qur'an menegaskan bahwa ilmu diprioritaskan dari pada amal. Karena ilmu-lah yang bertugas meluruskan amal, menuntun kepada syarat dan rukunnya. Perlu dicatat di sini, perintah membaca itu dikaitkan dengan Allah (Rabb) yang menciptakan. Sehingga membaca harus selalu dikaitkan dengan-Nya, harus seizin-Nya dan mengikuti perintah-Nya. Jadi hal ini merupakan bacaan orang beriman kepada Allah, dilandasi ketulusan 
kepada-Nya, dan terikat oleh hukum-hukum-Nya. Hal ini menegaskan bahwa ilmu dalam Islam hanya sebatas ilmu yang dibungkus iman. Hubungan keduanya merupakan hubungan langsung dan senyawa, atau hubungan yang saling melengkapi.
Kedudukan Akal dalam Islam   
Dalam banyak ayat Al-Qur'an -untuk sekedar contoh (QS 2 : 44, 73, 164, 219; 7 : 179, 185; 8 : 22; 10 : 24;  30 : 8; 88 : 17)- menunjukkan bahwa Islam memuliakan akal dan fikiran, meminta kepada kita agar kita menghadap Allah dengan melibatkan akal dan hati, memikirkan penciptaan alam dan pengaturannya. Kita juga harus tulus dalam mencari hidayah untuk mendapatkan hakikat, jauh dari pengaruh akal semata. Para ulama menganggap akal sebagai penyebab taklif, inti pahala dan siksa, juga merupakan dasar naql. Sebab jika eksistensi Allah tidak dikuatkan akal, dan kebenaran Nabi tidak dikuatkan akal, maka wahyu pun tak akan dikuatkan akal. 
Jadi akal-lah yang menguatkan nubuwah dan menguatkan kebenaran Nabi lewat mukjizat yang menunjukkan kebenarannya. Al-Qur'an mencegah kita dari sikap taklid  di mana keimanan kita harus berlandaskan keterangan yang kuat serta berdasarkan hujjah yang nyata. Karena itulah Al-Qur'an sangat memuliakan ilmu dan ilmuwan yang menggunakan semua potensi dirinya (akal, fikiran, hati, pendengaran dan penglihatan) untuk memahami ayat-ayat Allah sampai mereka menemukan kebenaran sejati (perhatikan QS 3 : 18;  35 : 19-22, 27-28; 39 : 8 dan ayat-ayat 
lain yang senada). Kebodohan sejajar dengan buta, ilmu sejajar dengan melihat. Bodoh seperti gelap gulita dan ilmu seperti cahaya terang. Bodoh adalah terik panas yang membakar, dan ilmu adalah keteduhan yang melindungi. Bodoh adalah kematian, dan ilmu adalah kehidupan. 
Menggapai posisi Ulul-albab 
Salah satu istilah Qur'ani yang menarik untuk kita kaji adalah ulul-albab, sebutan untuk orang-orang yang berilmu. Kelompok inilah yang bisa kembali membangun peradaban kaum muslimin yang selama ratusan tahun berada dalam bayang-bayang peradaban Barat sekuler. Karena dalam diri kelompok inilah ditemukan semua syarat yang memungkinkan mereka bisa menjadi umat yang unggul, umat yang menjadi rujukan bagi umat yang lain, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia karena menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah (QS 3 : 110).
Jika merujuk pada ayat-ayat Al-Qur'an, kelompok ulul-albab  ini memiliki kriteria :
1) memiliki keseimbangan dalam hal fikir dan zikir. Aktivitas fikir dikaitkan dengan pemahaman akan realitas alam, sunnatullah dan berbagai rahasia penciptaan. Sementara zikir berkaitan dengan tumbuhnya kesadaran akan keagungan Allah yang seterusnya mendorong mereka menjadi makhluk sadar diri, dapat menempatkan dirinya secara tepat dalam konstelasi kehidupan duniawi (QS 3 : 190-194).
2) memiliki kualitas kepribadian yang islami : setia kepada Allah, tidak suka melanggar janji, selalu menghubungkan semua hal yang diperintahkan Allah untuk dihubungkan, takut kepada-Nya dan hisab yang buruk, sabar, mendirikan shalat, selalu berinfak, dan menolak kejahatan dengan berbuat kebaikan (QS 13: 19-24). 
Dengan kata lain, ulul-albab  adalah orang yang bisa memadukan semua potensi kemanusiaan dan kecerdasannya menjadi sesuatu yang menyatu dan tidak terbagi, keyakinannya akan Allah  teraktualisasikan dalam semua sikap hidupnya. Pengetahuan yang dimilikinya semakin menjadikan dirinya bersimpuh penuh kerendahan hati dan ketulusan terhadap Allah untuk kemudian mengamalkannya pada jalan yang sesuai dengan Kehendak-Nya. Orang-orang yang disebut ulul-albab inilah yang sesungguhnya mendapatkan anugerah hikmah dari Allah (QS 2 : 269). 


Memisahkan aspek zikir dari fikir sebagai dua domain pendidikan yang seharusnya menyatu dan utuh akan melahirkan sistem pendidikan yang timpang. Pendidikan yang berorientasi hanya pada aspek fikir sebagaimana dikembangkan di dunia Barat akan melahirkan orang-orang yang cerdas secara intelektual tetapi kering dari sisi ruhani. Ilmu dikembangkan hanya untuk ilmu dan bersifat bebas nilai. Sementara pendidikan yang berorientasi pada aspek zikir saja,sebagaimana terjadi dalam sistem pendidikan Islam sekarang, akan melahirkan manusia 
yang cerdas secara ruhaniah tetapi tetapi banyak tertinggal dari sisi teknologi. Ilmu dikembangkan seolah-olah untuk akhirat saja, tetapi melupakan kehidupan dunia yang seharusnya menjadi tempat perjuangan menegakkan nilai-nilai ilahiyah.
Memahami syahadah dan tauhid sebagai sebuah metode integrasi semua hal yang kita lakukan dalam kehidupan dunia ini, akan menjadi dasar lahirnya sistem pendidikan yang integral dan holistik di mana kecerdasan spiritual, intelektual, emosional dan sosial, menjadi sebuah bangunan kepribadian setiap muslim. 


     Wallahu a'lam     

1 komentar:

Tarbiyatun Nisaa mengatakan...

Tulisan bagus, mencerahkan.....

Poskan Komentar

 
 
 

lihat iklan, dapat duit !

 
Copyright © Sukses Dunia-Akhirat | Using Amoebaneo Theme | Bloggerized by Themescook | Redesign by Kang eNeS
Home | TOP